SUB BAB I : PENGERTIAN CINTA KASIH
Didalam diri manusia pasti tertanam yang namanya Cinta dan Kasih
. Banyak orang mungkin beranggapan bahwa Cinta dan Kasih hanya ditunjukan
kepada kekasih atau pasangannya. Padahal arti dari Cinta Kasih itu sendiri
sangat luas. Kita bisa menunjukannya kepada siapa saja, selain kepada pasangan
kita juga dapat menunjukan kepada keluarga , sahabat atau saudara-saudara kita.
Untuk itu setiap orang perlu mengerti arti dari Cinta Kasih itu sendiri .
Disini saya akan mencoba menceritakan satu persatu Pengertian Cinta Kasih pada
Keluarga, Sahabat dan terhadap Sesama Manusia menurut pemikiran saya sendiri.
:* Cinta Kasih Didalam Keluarga
Dalam satu keluarga, agar terjalin suasana yang harmonis maka dibutuhkan yang namanya Cinta Kasih. Saling percaya antar satu dan yang lainnya didalam satu keluarga akan membuat keluarga tersebut semakin terlihat harmonis. Kasih sayang didalam keluarga sangat diperlukan terutama kasih sayang kedua orang tua. Beliau adalah ibu dan ayah yang telah mendidik dan membesarkan kita . Saya ambil contoh ketika kita sedang sakit atau sedang ada masalah besar
:* Cinta Kasih Didalam Keluarga
Dalam satu keluarga, agar terjalin suasana yang harmonis maka dibutuhkan yang namanya Cinta Kasih. Saling percaya antar satu dan yang lainnya didalam satu keluarga akan membuat keluarga tersebut semakin terlihat harmonis. Kasih sayang didalam keluarga sangat diperlukan terutama kasih sayang kedua orang tua. Beliau adalah ibu dan ayah yang telah mendidik dan membesarkan kita . Saya ambil contoh ketika kita sedang sakit atau sedang ada masalah besar
beliau
lah yang selalu ada menemani kita . Kasih dan sayang yang mereka berikan sangat
luar biasa dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Berbeda lagi ketika kita
sedang merasa gembira beliau juga ikut merasakan kegembiraan yang kita rasakan.
Alangkah bahagianya ketika kedua orang tua melihat kita sukses diluar sana.
Tanpa mereka kita tidak akan bisa seperti sekarang . Bersyukurlah bagi yang
masih merasakan kasih sayang kedua orang tua. Karena ada diantara kita yang
tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tua. Cinta dan Kasih keluarga
terhadap kita tidak bisa digantikan oleh apapun.
:* Cinta Kasih pada Sahabat
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na na na na na
Lirik lagu diatas sangat menarik bila dicermati. Kata demi kata mengandung arti tentang Persahabtan. Didalam lirik tersebut terdapat kata "Kepompong". Kepompong itu diibaratkan sebagai sebuah proses persahabatan yang pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Melalui persahabatan kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Saya pernah membaca sebuah pepatah yang mengatakan "Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri". Persahabatan memang tidak terjalin secara cepat , butuh waktu yang lama untuk kita bisa saling mengenal satu dengan yang lainnya. Diawali dari pengalaman suka dan duka serta canda dan tawa lah kita memulai Persahabatan. Sahabat akan selalu ada ketika kita sedang dalam masalah karena cinta sahabat lebih besar daripada cinta seorang kekasih. Dalam menjalin persahabatan anatara yang satu dengan yang lainnya harus bisa saling mengerti , memahami dan saling terbuka . Seperti halnya didalam keluarga , dalam Persahabatan dibutuhnkan juga kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Rasa saling percaya akan mempererat hubungan antar sahabat.
:* Cinta Kasih terhadap Sesama Manusia
Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah SWT kita diwajibkan untuk saling menyayangi. Selain kepada keluarga atau sahabat kita juga harus bisa saling menyayangi antar sesama manusia. Melihat zaman yang semakin modern saat ini saya menghawatirkan sudah tidak adanya lagi Cinta kasih terhadap sesama. Pasalnya orang zaman sekarang berbeda dengan orang zaman dahulu. Mungkinkah semua itu karena faktor bertambahnya tahun demi tahun ??? hmmm, entahlah mungkin dibutuhkan kesadaran dari diri masing-masing untuk bisa saling peduli dan saling menyayangi antar sesama makhluk Allah SWT. Padahal Cinta Kasih terhadap sesama manusia dapat kita mulai dari hal kecil. Contohnya kita saling peduli terhadap sesama manusia atau orang yang berada disekitar kita. Sikap saling peduli itu yang dinamakan cinta kasih terhadap sesama. Saya melihat akhir-akhir ini banyak yang namanya kasus kekerasan , penganiayaan dll . Padahal sebagai sesama makhluk Allah kita harus bisa saling menyayangi. Rasa kebersamaan dan saling menyayangi antar sesama manusia harus bisa kita tunjukan kepada semua orang. Karena rasa kebersamaan dan saling menyayangi akan membawa kita kepada kedamaian. Bukan hanya kedamaian pribadi tetapi kedamaian untuk orang banyak.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Cinta dan Kasih itu dapat kita berikan kepada siapapun tidak hanya terhadap pasangan . Karena arti dari Cinta Kasih itu sendiri sangat luas dan bersifat Universal. Cinta dan Kasih sangat diperlukan didalam kehidupan kita baik dilingkungan sekitar maupun dilingkungan luar. Yang terpenting adalah kesadaran diri kita tentang arti Cinta dan Kasih itu sendiri. Jangan sampai salah mengartikan . Allah telah menganugrahkan kepada kita Cinta dan Kasih dengan tujuan agar semua orang merasakan kedamaian lahir dan batin.
Hidup akan lebih berwarna apabila kita saling menyayangi antar sesama makhluk Tuhan ::))
:* Cinta Kasih pada Sahabat
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na na na na na
Lirik lagu diatas sangat menarik bila dicermati. Kata demi kata mengandung arti tentang Persahabtan. Didalam lirik tersebut terdapat kata "Kepompong". Kepompong itu diibaratkan sebagai sebuah proses persahabatan yang pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Melalui persahabatan kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Saya pernah membaca sebuah pepatah yang mengatakan "Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri". Persahabatan memang tidak terjalin secara cepat , butuh waktu yang lama untuk kita bisa saling mengenal satu dengan yang lainnya. Diawali dari pengalaman suka dan duka serta canda dan tawa lah kita memulai Persahabatan. Sahabat akan selalu ada ketika kita sedang dalam masalah karena cinta sahabat lebih besar daripada cinta seorang kekasih. Dalam menjalin persahabatan anatara yang satu dengan yang lainnya harus bisa saling mengerti , memahami dan saling terbuka . Seperti halnya didalam keluarga , dalam Persahabatan dibutuhnkan juga kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Rasa saling percaya akan mempererat hubungan antar sahabat.
:* Cinta Kasih terhadap Sesama Manusia
Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah SWT kita diwajibkan untuk saling menyayangi. Selain kepada keluarga atau sahabat kita juga harus bisa saling menyayangi antar sesama manusia. Melihat zaman yang semakin modern saat ini saya menghawatirkan sudah tidak adanya lagi Cinta kasih terhadap sesama. Pasalnya orang zaman sekarang berbeda dengan orang zaman dahulu. Mungkinkah semua itu karena faktor bertambahnya tahun demi tahun ??? hmmm, entahlah mungkin dibutuhkan kesadaran dari diri masing-masing untuk bisa saling peduli dan saling menyayangi antar sesama makhluk Allah SWT. Padahal Cinta Kasih terhadap sesama manusia dapat kita mulai dari hal kecil. Contohnya kita saling peduli terhadap sesama manusia atau orang yang berada disekitar kita. Sikap saling peduli itu yang dinamakan cinta kasih terhadap sesama. Saya melihat akhir-akhir ini banyak yang namanya kasus kekerasan , penganiayaan dll . Padahal sebagai sesama makhluk Allah kita harus bisa saling menyayangi. Rasa kebersamaan dan saling menyayangi antar sesama manusia harus bisa kita tunjukan kepada semua orang. Karena rasa kebersamaan dan saling menyayangi akan membawa kita kepada kedamaian. Bukan hanya kedamaian pribadi tetapi kedamaian untuk orang banyak.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Cinta dan Kasih itu dapat kita berikan kepada siapapun tidak hanya terhadap pasangan . Karena arti dari Cinta Kasih itu sendiri sangat luas dan bersifat Universal. Cinta dan Kasih sangat diperlukan didalam kehidupan kita baik dilingkungan sekitar maupun dilingkungan luar. Yang terpenting adalah kesadaran diri kita tentang arti Cinta dan Kasih itu sendiri. Jangan sampai salah mengartikan . Allah telah menganugrahkan kepada kita Cinta dan Kasih dengan tujuan agar semua orang merasakan kedamaian lahir dan batin.
Hidup akan lebih berwarna apabila kita saling menyayangi antar sesama makhluk Tuhan ::))
SUB BAB II : CINTA MENURUT
AJARAN AGAMA
A. CINTA MENURUT AGAMA ISLAM
Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai'an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
1. lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
2. lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
3. lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Qur'an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan "nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin(Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
b. Cinta kasih menurut agama Kristen
Amal
Kristen terutama tentang mengasihi satu sama lain. Orang Kristen dipanggil
untuk merangkul sesama mereka dengan sepenuh hati dan jiwa mereka, mereka
dipanggil untuk memberikan dukungan kepada tetangga mereka melalui pikiran
mereka dan perbuatan mereka. Amal Kristen berarti memberi dengan hati, serta
tangan Anda, dan melakukannya tanpa menyombongkan diri atau mengharapkan
imbalan apa pun. Amal tidak hanya tentang memberi kepada orang miskin,
melainkan juga tentang benar-benar mencintai sesama manusia.
Menerapkan
Amal
Menyumbangkan
waktu Anda dengan sukarela, memberi kepada orang miskin, mengunjungi orang
sakit, dan menawarkan telinga ke tertekan dan menyakiti merupakan contoh amal
Kristen.
Menawarkan
Layanan
Matius
25:40 mengatakan, ” Amin, Aku berkata kepadamu, apa pun yang Anda lakukan untuk
salah seorang dari saudara paling hina, kamu melakukannya untuk Aku.” Orang
Kristen dipanggil untuk melihat Kristus dalam semua tetangga mereka, sehingga
mereka dipanggil untuk memberikan pelayanan kepada setiap orang seperti yang
mereka lakukan untuk Kristus.
Pengorbanan
Ketika
Yesus memberikan hidupnya untuk orang-orang berdosa serta adil, orang Kristen
diharapkan akan membantu orang lain. Roma 5:7-8 mengingatkan orang Kristen
bahwa, ” … hanya dengan kesulitan seseorang mati untuk orang yang hanya …
tetapi Allah membuktikan kasih-Nya bagi kita ketika kita masih berdosa Kristus
mati untuk kita.”
Pengampunan
Untuk
memberikan diri tanpa syarat, yang merupakan persyaratan amal Kristen yang
benar, perlu untuk benar-benar mengampuni mereka yang Anda merasa mungkin telah
menyinggung Anda. Kristus berkata dalam Lukas 6:27:36 untuk ” lakukan kepada
orang lain sebagaimana Anda ingin mereka lakukan padamu” dan ” memberi kepada
setiap orang yang meminta dari Anda.”
Cinta
Di
atas segalanya, amal Kristen adalah tentang cinta. 1 Korintus 13:03 mengatakan,
” Jika aku memberikan semua yang saya sendiri, dan jika aku menyerahkan tubuh
saya di atas sehingga aku bisa bermegah, tetapi tidak memiliki kasih, saya
mendapatkan apa-apa.”
C. Cinta kasih menurut agama katolik
Apa
itu KATOLIK ? Apakah katolik hanya sekedar agama atau sarana manusia
berkomunikasi dengan Tuhan ?
Cinta
sesuatu yang umum yang semuakalangan mengetahuinya. Bila dihubungkan dengan
Katolik, cinta yang dimaksud adalah cinta kasih. Sumber cinta kasih adalah
teladan Yesus Kristus. Tanpa cinta kasih yang dilakoni Yesus Kristus maka tak
ada keselamatan. Sebab karena cinta-Nya, Yesus Kristus rela sengsara dan wafat
di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Namun, saat ini realitas cinta
sesungguhnya sudah “nge-blur”. Kini, kebanyakan dari kita memaknai cinta lebih
kepada apa yang kita terima daripada apa yang kita beri.
Rata-rata
kita (orang muda) mendekatkan cinta dengan napsu. Banyak dari kita berpendapat
bahwa cinta dan napsu itu beda tipis. Sesuai dengan kata kata Paus Benedictus
XVI, dimana paus mengklasifikasikan bahwa cinta terdiri atas EROS, AGAPE, dan
LOGOS. Sementara sex merupakan anugerah dari Tuhan untuk manusia bisa
mengungapkan apa itu cinta akan tetapi anugerah tersebut dapat menjadi jahat
jika terjadi di saat yang tidak tepat.
Adanya
pergeseran makna tentang cinta dalam kehidupan kaum muda saat ini, dimana
sesuatu yang umum menjadi hal khusus, yang salah menjadi benar, atau
sebaliknya.
Paus
Benedictus XVI mnyatakan hal yang sesuai dengann apa yang diajarkan
katholik padanya, yaitu GOD IS LOVE, yang merefleksikan konsep tentang EROS
(cinta seksual), AGAPE (kasih tanpa syarat), dan LOGOS (firman atau sabda) dan
hubungannya masing – masing dengan ajaran Katolik.
Dalam
Hukum Gereja Katolik, no. 1061 § 1 Perkawinan sah antara orang-orang yang
dibaptis disebut hanya ratum, bila suami-istri telah melakukan
persetubuhan antar mereka secara sah yang pada sendirinya dan terbuka untuk
kelahiran anak, untuk itulah perkawinan menurut kodratnya terarahkan, dan
dengannya suami-istri menjadi satu daging.
Dimana
kita tau bahwa dalam ajaran katolik sangat dikenal dengan cinta kasih. Cinta
dalam Katolik, secara murni adalah Keselamatan, dan Pengorbanan. Keselamatan
karena adanya sakramen pembabtisan, dimana dalam pembaptisan manusia dibebaskan
dari dosa asalnya, dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, dan menjadi
anggota gereja. Sedangkan pengorbanan seperti Yesus yang dengan rela mati di
salib hanya untuk menebus dosa umatnya, dan adanya sakramen pengakuan dosa .
Setiap individu yang telah menerima sakramen pembabtisan diperkenankan untuk
menerima sakramen pengakuan dosa. Tapi bukan berarti dengan adanya sakramen
pengakuan dosa bisa membuat kita semena-mena untuk tetap saja melakukan dosa
yang telah kita akui.
Timbul
sebuah pertanyaan akan sakramen pengakuan dosa, yaitu manusia adalah mahluk
bebas, dan Hidup adalah pilihan. Apa yang akan terjadi jika agama yg tercatat
dalam KTP adalah katolik, status belum menikah, tetapi sudah melakukan
SEX. Apa saya tetap katolik? Menurut saya dari berbagai sumber yang saya
tanyakan adalah benar bahwa manusia adalah bebas, Tuhan tidak bisa memaksa
tetapi Tuhan memberikan pilihan atas keselamatan secara cuma-cuma, secara
umum kita masih katolik, akan tetapi akan timbul suatu pertanyaan akan
kredibilitas kekatolikkan kamu.
Banyak
terdengar bahwa dengan adanya pengakuan dosa, terlihat bahwa katolik
memfasilitasi perbuatan dosa, suatu hal yang sangat salah, karena seperti yg
dijelaskan sebelumnya bahwa pengakuan dosa bukanlah media untuk mengulang dosa,
justru sebaliknya, seperti dalam doa tobat, aku menyesal atas dosa-dosaku.
…………..dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da
tidak akan berbuat dosa lagi. Jika kita mendalami arti kata-kata ini bahwa,
kita memilih untuk berjanji.
“Apa
yang terjadi jika, ketika saya ingin menikahi perempuan yang saya cintai –
tetapi ternyata dia sudah tidak perawan??” Mungkin buat para perempuan
pertanyaan ini sungguh sangat tidak adil, mengapa hanya tentang keperawanan
perempuan saja yang dijadikan patokan, mengapa keperjakaan seorang laki-laki
bisa menjadi tanda Tanya besar kami ?? … Mengutip kalimat diakon
menanggapi pertanyaan tersebut adalah “Cinta itu dianggap sejati, jika kita
dihadapkan pada keadaan yang menyusahkan”
“Apakah
katolik mengenal pacaran ?” pada dasarnya, pacaran itu adalah suatu hubungan
dimana saling mengenal yang nantinya diharapkan untuk dapat dilanjutkan ke
hubungan yang sah secara katolik yaitu Sakramen Pernikahan.
Bagaimana
dengan pernikahan beda agama ?, konsekuensi yang diterima oleh pihak yang
menikah beda agama adalah, secara katolik mereka tidak menerima sakramen
pernikahan hanya menerima pemberkatan pernikahan, akan tetapi walaupun bukan
sakramen – katolik harus tetap menjadi acuan dasar pendidikan agama untuk
anak-anak mereka kelak. Jika nantinya pihak yang bukan katolik menjadi katolik
/ menerima sakramen pembabtisan maka mereka diharapkan untuk mengulang kembali
proses pernikahannya dengan menerima sakramen pernikahan.
Iman
katolik, yang membuat katolik menjadi berbeda dengan ajaran lainnya . Kitab
Suci, Tradisi, dan Magisterium. Magisterium adalah orang – orang yang terpilih
yang menginterpretasikan sabda Tuhan di dalam kitab suci.
Berikut
hal – hal yang sangat tegas dan jelas tidak boleh di dalam katolik adalah
CERAI, ABORSI, NIKAH SESAMA JENIS, ALAT PENCEGAHAN KEHAMILAN. Di dalam katolik
tidak ada istilah perceraian. Nikah sesame jenis walaupun dalam ilmu psikologis
ketertarikan terhadap sesama jenis tidak dianggap sebagai sesuatu yang
abnormal, karena kasih tidak bisa dibatasi dengan jenis kelamin akan tetapi di
dalam katolik hanya mengartikan bahwa Kesepakatan perkawinan adalah
tindakan kehendak dengan- nya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling
menyerahkan diri dan saling menerima untuk
membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali.
Kesimpulannya,
Katolik ada karena Cinta, keselamatan ada karena cinta tak bersyarat dari Tuhan
kepada manusia. Tanpa Cinta itu bukan katolik. Karena hukum utamanya adalah
kasih.
D. Cinta kasih menurut agama Buddha
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "cinta" berarti: suka sekali,
sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin
sekali, berharap sekali, rindu, susah hati dan risau. Dalam KBBI juga terdapat
kata "cintamani" yang berarti intan yang bertuah atau ular yang
mendatangkan bahagia (terutama dalam percintaan).
Agama Buddha tidak alergi dengan istilah "cinta." Terbukti dalam Nikaya Pali, yaitu: Dhammapada ada satu bab yang diberi judul: Piya Vagga yang berarti kecintaan. Begitu pula dalam Majjhima Nikaya terdapat sutta yang berjudul Piyajatika Sutta, khotbah tentang orang-orang tercinta.
Dalam Bahasa Pali juga ditemukan beberapa istilah cinta, seperti: piya, pema, rati, kama, tanha (jawa trenso), ruci, dan sneha yang memiliki arti: rasa sayang, kesenangan, cinta kasih sayang, kesukaan, nafsu indera (birahi), kemelekatan, dsb, yang terjalin antara dua insan berbeda jenis atau cinta dalam lingkup keluarga.
Rollo May, dalam bukunya "Love and Will" mendefinisikan empat macam cinta, yaitu:
1. Libido: cinta yang menyangkut seks, nafsu birahi.
2. Eros: dorongan untuk mencintai dan dicintai.
3. Philia: persahabatan, cinta seperti saudara.
4. Agape: cinta yang penuh pengabdian demi orang lain dengan dasar rasa kemanusiaan.
Efek Cinta
Cinta memiliki suatu kekuatan yang hebat dan dahsyat, kadang cinta membuat orang yang mengalaminya merasa bahagia, senang, mabuk kepayang, dan ah..., berjuta rasanya (menurut lagu). Tetapi, kadang cinta dapat juga membuat orang kehilangan akal sehat, seperti yang terjadi di Semarang, SF (20), nekat bunuh diri dengan meminum cairan serangga. Kenekatan korban diduga akibat patah hati lantaran cintanya diputus sang kekasih. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa lembar "surat cinta." (Suara Merdeka, Selasa, 2 September 2003).
Dhammapada Atthakatha, juga memuat cerita tentang Raja Pasenadi Kosala yang jatuh cinta pada seorang wanita yang telah bersuami, siang dan malam, raja memikirkan wanita itu dan ia menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya. Pikiran raja diliputi nafsu birahi dan hal ini membuatnya mengalami gangguan tidur. Raja juga diganggu oleh suara-suara seram yang datang dari alam neraka, suara dari makhluk neraka yang pada kehidupan lampaunya senang berzinah dengan isteri orang lain. Setelah dinasehati Sang Buddha, akhirnya raja menyadari kesalahannya dan tak lagi menginginkan wanita itu.
Dalam Piyajatika Sutta, Majjhima Nikaya, dikisahkan tentang seorang ayah yang mencintai putra laki-lakinya. Suatu hari putranya itu meninggal dunia. Sang ayah diliputi kesedihan yang mendalam, dan ia tidak lagi peduli pada pekerjaan dan makanan. Setiap hari ia pergi ke kuburan dan meratapi kepergian anaknya di sana.
Kemudian ia datang kepada Sang Buddha. Sang Buddha berkata kepadanya, "Perumahtangga, perilakumu seperti perilaku orang yang hilang ingatan, perilakumu dalam keadaan yang tidak normal." Ia kemudian menceritakan tentang apa yang dialaminya.
Sang Buddha berkata, "Itulah perumahtangga, itulah sebabnya orang-orang yang kita cintai, mereka yang terkasih membawa kesedihan dan ratapan, sakit, dukacita dan kekecewaan."
Memang cinta antara orangtua dan anak adalah hal yang wajar dan alamiah, tetapi kemelekatan yang kuat pada yang kita cintai akan dapat membuat kita kecewa dan menderita. Dalam Dhammapada gatha 210 dan 213 dikatakan:
"
Agama Buddha tidak alergi dengan istilah "cinta." Terbukti dalam Nikaya Pali, yaitu: Dhammapada ada satu bab yang diberi judul: Piya Vagga yang berarti kecintaan. Begitu pula dalam Majjhima Nikaya terdapat sutta yang berjudul Piyajatika Sutta, khotbah tentang orang-orang tercinta.
Dalam Bahasa Pali juga ditemukan beberapa istilah cinta, seperti: piya, pema, rati, kama, tanha (jawa trenso), ruci, dan sneha yang memiliki arti: rasa sayang, kesenangan, cinta kasih sayang, kesukaan, nafsu indera (birahi), kemelekatan, dsb, yang terjalin antara dua insan berbeda jenis atau cinta dalam lingkup keluarga.
Rollo May, dalam bukunya "Love and Will" mendefinisikan empat macam cinta, yaitu:
1. Libido: cinta yang menyangkut seks, nafsu birahi.
2. Eros: dorongan untuk mencintai dan dicintai.
3. Philia: persahabatan, cinta seperti saudara.
4. Agape: cinta yang penuh pengabdian demi orang lain dengan dasar rasa kemanusiaan.
Efek Cinta
Cinta memiliki suatu kekuatan yang hebat dan dahsyat, kadang cinta membuat orang yang mengalaminya merasa bahagia, senang, mabuk kepayang, dan ah..., berjuta rasanya (menurut lagu). Tetapi, kadang cinta dapat juga membuat orang kehilangan akal sehat, seperti yang terjadi di Semarang, SF (20), nekat bunuh diri dengan meminum cairan serangga. Kenekatan korban diduga akibat patah hati lantaran cintanya diputus sang kekasih. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa lembar "surat cinta." (Suara Merdeka, Selasa, 2 September 2003).
Dhammapada Atthakatha, juga memuat cerita tentang Raja Pasenadi Kosala yang jatuh cinta pada seorang wanita yang telah bersuami, siang dan malam, raja memikirkan wanita itu dan ia menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya. Pikiran raja diliputi nafsu birahi dan hal ini membuatnya mengalami gangguan tidur. Raja juga diganggu oleh suara-suara seram yang datang dari alam neraka, suara dari makhluk neraka yang pada kehidupan lampaunya senang berzinah dengan isteri orang lain. Setelah dinasehati Sang Buddha, akhirnya raja menyadari kesalahannya dan tak lagi menginginkan wanita itu.
Dalam Piyajatika Sutta, Majjhima Nikaya, dikisahkan tentang seorang ayah yang mencintai putra laki-lakinya. Suatu hari putranya itu meninggal dunia. Sang ayah diliputi kesedihan yang mendalam, dan ia tidak lagi peduli pada pekerjaan dan makanan. Setiap hari ia pergi ke kuburan dan meratapi kepergian anaknya di sana.
Kemudian ia datang kepada Sang Buddha. Sang Buddha berkata kepadanya, "Perumahtangga, perilakumu seperti perilaku orang yang hilang ingatan, perilakumu dalam keadaan yang tidak normal." Ia kemudian menceritakan tentang apa yang dialaminya.
Sang Buddha berkata, "Itulah perumahtangga, itulah sebabnya orang-orang yang kita cintai, mereka yang terkasih membawa kesedihan dan ratapan, sakit, dukacita dan kekecewaan."
Memang cinta antara orangtua dan anak adalah hal yang wajar dan alamiah, tetapi kemelekatan yang kuat pada yang kita cintai akan dapat membuat kita kecewa dan menderita. Dalam Dhammapada gatha 210 dan 213 dikatakan:
"
Janganlah
melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai.
Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan yang ttidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan"
"Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan,
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta tiada lagi kesedihan dan ketakutan"
Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan yang ttidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan"
"Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan,
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta tiada lagi kesedihan dan ketakutan"
Resi Vyatsyayana, pujangga India Kuno menulis sebuah kitab tentang seni bercinta. Kitab yang menghebohkan dan dijadikan pedoman bagi pasangan yang dimabuk asmara "Kama Sutra" dan sempat pula kisah ini diangkat ke layar perak.
Dalam Sutta Nipata, terdapat pula khotbah Sang Buddha dengan judul yang sama (Kama Sutta), namun isi kedua sutta ini bertolak belakang. Jika dalam Kama Sutra diajarkan teknik-teknik bercinta, tetapi dalam Kama Sutta justru sebaliknya, Sang Buddha mengingatkan bahwa kenikmatan nafsu indera harus dihindari. Beliau mengatakan, "Jika manusia yang menginginkan kenikmatan-kenikmatan indera itu tidak memperolehnya, maka ia akan menderita bagaikan tertusuk anak panah" (SN - 767). "Manusia yang menginginkan berbagai objek indera, seperti misalnya: rumah, kebun, emas, uang, kuda, pelayan, handai taulan, dll, maka emosi yang kuat akan menguasainya, bahaya akan menghimpitnya, dan penderitaan akan mengikutinya bagaikan air yang masuk ke dalam kapal yang karam" (SN -769).
Cinta Kasih Universal (Metta)
Nikaya Pali juga memuat satu kata cinta yang berbeda dengan cinta yang telah disebutkan di atas, cinta kasih yang dipancarkan secara universal (tak terbatas) kepada semua makhluk dan cinta kasih yang tanpa pamrih, yaitu: Metta.
Metta adalah bagian pertama dari empat kediaman luhur (Brahma Vihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna). Bagian lainnya, yaitu Karuna (kasih sayang), Mudita (simpatik), dan Upekkha (keseimbangan batin).
Metta adalah rasa persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri. Metta juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dan menyingkirkan kebencian (dosa) serta keinginan jahat (byapada).
Metta berbeda dengan piya, pema, rati, kama, tanha, ruci dan sneha yang hanya menimbulkan nafsu dan kemelekatan. Pengembangan Metta dapat mengantarkan kita pada pencapaian kedamaian Nibbana (Mettacetto vimutti), seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Dhammapada 368:
"Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada Keadaan Damai (Nibbana), berhentinya hal-hal yang berkondisi (sankhara)"
Namun harus diwaspadai bahwa Metta yang dipancarkan secara berlebihan kepada lawan jenis dapat mengalami penyimpangan menjadi cinta nafsu atau cinta egois.
Kepada Siapakah Metta Dipancarkan?
Metta Sutta dari Sutta Nipata, mengajarkan agar kita memancarkan Metta kepada semua makhluk.
"Makhluk yang apa pun juga, yang lemah dan kuat tanpa kecuali, yang panjang atau besar, yang sedang, pendek, kecil, atau gemuk, yang tampak atau tak tampak, yang jauh ataupun dekat, yang telah lahir atau yang akan lahir, Semoga semua makhluk berbahagia".
(Sutta Nipata 146 - 147).
Bahkan dalam Sutta ini juga diajarkan agar kita juga memancarkan Metta kepada orang yang tidak disenangi dan tidak benci atau dendam kepadanya.
"Jangan
menipu orang lain, atau menghina siapa saja, jangan karena marah dan benci
mengharap orang lain celaka"
(Sutta Nipata 148).
(Sutta Nipata 148).
Bhikkhu Buddhaghosa dalam Visuddhi Magga, menjelaskan bahwa pada tahap awal Metta tidak boleh dikembangkan kepada empat jenis manusia, yaitu: orang yang antipati, teman yang amat disayangi, orang yang netral, dan orang yang dimusuhi. Juga Metta tidak seharusnya dikembangkan secara khusus kepada lawan jenis, atau orang yang sudah meninggal.
Kenapa demikian? Karena menempatkan orang yang antipati pada posisi orang yang disayangi adalah melelahkan. Menempatkan teman yang amat disayangi pada posisi yang netral adalah melelahkan, jika sedikit kemalangan menimpa temannya itu, ia merasa ingin menangis. Menempatkan orang yang netral pada posisi orang yang dihormati/disayangi adalah melelahkan. Dan kemarahan akan timbul dalam dirinya bila ia mengingat orang yang dimusuhinya. Jika ia mengembangkan Metta secara khusus kepada lawan jenis, maka nafsu birahi akan muncul dalam dirinya. Jika Metta yang dipancarkan kepada orang yang sudah meninggal, tidak akan membawa pada konsentrasi terserap (appana samadhi) maupun konsentrasi akses (upacara samadhi).
Dari semua itu, yang pertama-tama, Metta haruslah dikembangkan hanya terhadap diri sendiri, melakukan hal ini secara berulang-ulang, sebagai berikut, "Semoga saya berbahagia dan bebas dari penderitaan" atau "Semoga saya dapat menjaga diri saya agar terbebas dari permusuhan, kesusahan, dan kegelisahan, serta hidup berbahagia."
Cara Mengembangkan Metta
Dalam Sutta dan Vinaya Pitaka terdapat cara-cara (metode) pengembangan Metta, yaitu:
1. Tevijja Sutta, Digha Nikaya, menjelaskan cara mengembangkan Metta ke sepuluh penjuru (arah), dengan rumusan: "semoga semua makhluk yang ada di arah barat berbahagia, bebas dari penderitaan, kebencian, permusuhan, kesakitan, kesukaran batin dan jasmani, semoga semua makhluk yang ada di Barat dapat mempertahankan kebahagiaan yang telah mereka peroleh."
Selanjutnya Metta dipancarkan kepada semua makhluk yang ada di arah Barat Laut, Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, atas dan bawah. Metode ini disebut "Disapharana."
2. Sutta Nipata, Karaniya Metta Sutta. Kalimat-kalimat yang terdapat dalam Karaniya Metta Sutta (bisa dalam Bahasa Pali atau Bahasa Indonesia) dihafalkan lalu dijadikan objek meditasi, diresapi dan direnungkan dalam hati secara perlahan-lahan.
"Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, untuk mencapai ketenangan ia harus mampu, jujur, sungguh jujur, rendah hati, lemah lembut, tidak sombong, merasa puas, mudah dilayani, tiada sibuk, sederhana hidupnya, berhati-hati, tahu malu, ..dan seterusnya."
3. Mahavagga, Khandha Paritta. Metode yang terdapat dalam Khandha Paritta ini adalah metode cinta kasih yang dipancarkan kepada ular dan hewan-hewan lainnya.
"Cinta kasihku kepada suku ular-ular Virupakha, Erapatha, Chabyaputta, Kanhagotamaka. Cinta kasihku kepada makhluk-makhluk berkaki dua, cinta kasihku kepada makhluk berkaki empat, cinta kasihku kepada makhluk berkaki banyak, cinta kasihku kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, ...dan seterusnya."
4. Patisambhida Magga memuat dua cara, yaitu:
a. Odishapharana, yaitu Metta dipancarkan dengan batas (spesifikasi orang/makhluk), seperti: "Semoga semua wanita (sabbe itthiyo) berbahagia, bebas dari penderitaan, kebencian, kesakitan, kesukaran. Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri"
Selanjutnya, semua laki-laki (sabbe puriso), semua orang suci (sabbe ariyo), semua orang yang belum suci (sabbe anariyo), semua dewa (sabbe deva), semua manusia (sabbe manussa), semua yang tidak bahagia (sabbe vinipatika).
b. Anodhisapharana, yaitu Metta dipancarkan tanpa suatu batas, seperti: "Semoga semua makhluk berbahagia (sabbe satta), bebas dari penderitaan, ... dan seterusnya."
Selanjutnya adalah semua makhluk hidup yang bernafas (sabbe pana), semua makhluk yang dilahirkan (sabbe bhuta), semua orang (sabbe puggala), semua yang telah menjadi orang (sabbe attabhava pariyapanna).
Metode Disapharana, Odhisapharana dan Anodhisapharana inilah yang direkam dalam kaset dan CD, "The Chant of Metta"
Jika kita mengalami kesulitan dalam menghapal kita dapat menggunakan rumusan Metta yang terdapat dalam peresapan Brahma Vihara (Brahmaviharapharana), yang berbunyi, "semoga saya berbahagia, bebas dari ……. dst. Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari..." dst.
Sebelas Pahala Metta
Dalam Anguttara Nikaya, Ekadasaka Nipata Pali (juga terdapat dalam Visuddhi Magga) dijelaskan ada sebelas pahala yang didapat seorang praktisi yang mengembangkan Metta, yaitu:
1. Ia akan tidur dengan nyenyak
2. Ia bangun tidur dengan segar
3. Ia tidak akan diganggu mimpi buruk.
Harian Umum Suara Merdeka, Kamis, 21 Agustus 2003 (hal XVI), memberitakan: Masyarakat Indonesia banyak mengalami gangguan tidur, terutama insomnia gejalanya berupa susah tidur, sering terbangun di malam hari dan sulit tidur lagi, terbangun terlalu pagi dan bangun pagi terasa tidak segar dan sleep disorder gejalanya berupa mendengkur dan perasaan tersedak. Akibat dari penyakit ini pemerintah akan menanggung kerugian finansial yang cukup besar, di antaranya karena menurunnya produktivitas dan membahayakan jiwa penderitanya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan "The National Highway Traffic Safety Administration" di AS pada tahun 2000 lalu, tercatat 100.000 kasus kecelakaan akibat mengantuk.
Tiga pahala Metta yang pertama adalah berhubungan dengan kondisi tidur yang mudah dan nyenyak. Penulis menyarankan kepada mereka yang mungkin saat ini mengalami gangguan tidur, di samping berkonsultasi ke psikiater, cobalah mulai mempraktikkan Metta setiap saat, daripada mengkonsumsi pil penenang atau obat tidur yang hanya akan menimbulkan ketergantungan/ ketagihan dan melemahkan kerja jantung.
4. Ia dicintai oleh makhluk manusia
5. Ia dicintai oleh makhluk bukan manusia
Contohnya adalah Sang Buddha menaklukkan Gajah Nalagiri yang dibuat mabuk oleh Devadatta.
6. Dilindungi para Dewa.
Raja Bimbisara berjanji akan membuatkan kuti bagi Bhante Subhuti, siswa yang terkemuka dalam pengembangan Metta dan layak mendapat persembahan. Tetapi, karena kesibukannya, Raja lupa akan janjinya. Bhante Subhuti akhirnya bermeditasi di alam terbuka, hal ini membuat Dewa hujan enggan untuk menurunkan hujan dan membuat kekeringan melanda kerajaan Magadha. Baru setelah raja ingat akan janjinya dan membuatkan kuti bagi Bhante Subhuti hujan dapat turun kembali.
7. Tidak mempan api, racun, dan senjata.
Karena hasutan dan niat jahat yang dilakukan oleh Magandiya, Raja Udena menjadi murka kepada Ratu Samavati. Raja mengarahkan anak panah beracun kepada Ratu Samavati dan pengikutnya. Tetapi, berkat kekuatan Metta yang dipancarkan Samavati dan pengikutnya, anak panah beracun itu terpental bagai membentur dinding/perisai.
8. Pikirannya mudah terkonsentrasi
9. Ekspresi wajahnya tenang
10 Ia meninggal dengan tidak gelisah
11.Jika ia belum mencapai Nibbana, maka ia akan terlahir kembali di Alam Brahma (alam bahagia/surga tingkat tinggi) bagaikan orang terbangun dari tidur.
Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha mengatakan, "Para Bhikkhu, seandainya selama sejentikan jari seorang bhikkhu memancarkan buah pikir cinta kasih, mengembangkannya, memberikan perhatian kepadanya, maka orang seperti itu benar-benar dapat disebut bhikkhu. Tak sia-sialah dia bermeditasi. Dia bertindak sesuai dengan Ajaran Sang Guru, mengikuti nasehat Sang Guru, makan makanan yang sepantasnya diperoleh dari pindapata. Betapa lebih besarnya cinta kasih itu jika dia mengembangkannya".(AN I, vi, 3-5).
Penutup
Sebagai manusia (makhluk hidup), mencintai dan dicintai adalah suatu hal yang wajar dan alamiah. Tetapi menjadi tidak wajar jika menempuh segala cara untuk mendapatkannya, (seperti meminta bantuan paranormal) dan mengambil jalan pintas (bunuh diri, dan sebagainya) jika kecewa karenanya. Realistislah dalam memandang persoalan cinta, tidak melekat dan juga tidak membenci ketika kita gagal dalam bercinta.
Saat ini, dunia dilanda berbagai macam masalah dan persoalan hidup yang tak mudah diselesaikan, di mana angka kriminalitas, kekerasan, kebencian, dendam, dengki, iri hati, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan berbagai dekadensi moral yang semakin meningkat, serta adanya ancaman perang dari negara-negara yang bertikai. Ditambah lagi bahaya kekeringan (kesulitan air bersih) dan kelaparan meluas di mana-mana, maka marilah kita memberikan sumbangsih kita pada dunia ini. Mulailah kita mengembangkan Metta, cinta kasih universal dalam diri kita. Pedulilah pada sesama, pedulilah pada semua makhluk dan peduli pada dunia (bumi) tempat kita hidup dan berpijak. Sang Buddha mengatakn, "Loko Patambhika Metta," artinya cinta kasih dapat menyelamatkan dunia".
E. Cinta kasih menurut agama hindu
Sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. Tentu makna kasih lebih dalam dari pada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. Sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suatu obyek. Kenapa dalam mengekspresikan sikap ini selalu digunakan gabungan kata cinta dan kasih? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika seseorang baru sanmpai sebatas cinta. Lalu apa yang menjadi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari cinta? Dapat dipastikan jawabannya adalah kasih.
Ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami hakikat cinta dan kasih. Adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Ciptaan Tuhan dapat digolongkan dalam tingkatan sesuai eksistensinya atau kemampuannya yaitu “eka pramana” ialah makhluk hidup yang hanya memiliki satu aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/ hidup, seperti tumbuh-tumbuhan. “Dwi pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu dan sabda/bicara, seperti hewan/binatang. “Tri pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, sabda dan idep/pikiran, seperti manusia.
Tri Hita Karana. Untuk dapat menghayati lebih luas lagi, ajaran cinta kasih dapat diwujud-nyatakan dalam interaksi sosial religius yaitu antara sesama manusia (pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan (palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parahyangan). Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
Tat Twam Asi.
Adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1.
Refleksi Cinta Kasih.
Cinta kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus lascarya tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai tahap ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia. Cinta kasih yang tulus lascarya memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa.
Dalam Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : “Aham Brahman Asmi” yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan. Sedangkan dalam Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : “Sarwam khalu idam Brahman” yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan.
Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dari Dia. Menyadari bahwa asal dan tujuan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali Tuhan. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal. Lalu apa yang harus dibangga-banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian, kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi. Mengekspresikan kebanggaan hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan sraddha kepada Sanghyang Widhi Wasa. Percaya kepada Tuhan sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.
Keseimbangan Cinta Kasih. Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana. Di satu sisi dituntut bersikap rasional, namun di sisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semesta beserta isinya.
Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman.
Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajur Weda 32. 8 dinyatakan “Sa’atah protasca wibhuh prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.
Cinta kasih Dalam Keluarga. Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).
Dalam Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : ”Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya. Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya. Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama.”
Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kesimpulan.
Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Cinta kasih dapat diwujudkan apabila manusia memahami
secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran “Tat Twam Asi,” “Sarwam khalu idan Brahman,” “Aham Brahman asmi.”
Sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. Tentu makna kasih lebih dalam dari pada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. Sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suatu obyek. Kenapa dalam mengekspresikan sikap ini selalu digunakan gabungan kata cinta dan kasih? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika seseorang baru sanmpai sebatas cinta. Lalu apa yang menjadi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari cinta? Dapat dipastikan jawabannya adalah kasih.
Ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami hakikat cinta dan kasih. Adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Ciptaan Tuhan dapat digolongkan dalam tingkatan sesuai eksistensinya atau kemampuannya yaitu “eka pramana” ialah makhluk hidup yang hanya memiliki satu aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/ hidup, seperti tumbuh-tumbuhan. “Dwi pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu dan sabda/bicara, seperti hewan/binatang. “Tri pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, sabda dan idep/pikiran, seperti manusia.
Tri Hita Karana. Untuk dapat menghayati lebih luas lagi, ajaran cinta kasih dapat diwujud-nyatakan dalam interaksi sosial religius yaitu antara sesama manusia (pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan (palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parahyangan). Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
Tat Twam Asi.
Adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1.
Refleksi Cinta Kasih.
Cinta kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus lascarya tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai tahap ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia. Cinta kasih yang tulus lascarya memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa.
Dalam Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : “Aham Brahman Asmi” yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan. Sedangkan dalam Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : “Sarwam khalu idam Brahman” yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan.
Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dari Dia. Menyadari bahwa asal dan tujuan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali Tuhan. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal. Lalu apa yang harus dibangga-banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian, kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi. Mengekspresikan kebanggaan hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan sraddha kepada Sanghyang Widhi Wasa. Percaya kepada Tuhan sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.
Keseimbangan Cinta Kasih. Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana. Di satu sisi dituntut bersikap rasional, namun di sisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semesta beserta isinya.
Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman.
Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajur Weda 32. 8 dinyatakan “Sa’atah protasca wibhuh prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.
Cinta kasih Dalam Keluarga. Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).
Dalam Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : ”Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya. Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya. Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama.”
Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kesimpulan.
Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Cinta kasih dapat diwujudkan apabila manusia memahami
secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran “Tat Twam Asi,” “Sarwam khalu idan Brahman,” “Aham Brahman asmi.”
F. Cinta kasih menurut agama konghucu
Ajaran Konfusianisme atau Kong
Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalambahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao yang
berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur.
Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya
menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang
beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan
ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa
Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan
menjaga etikamanusia. Sebenarnya kalau orang mau
memahami secara benar dan utuh tentan,g Ru Jiaoatau Agama Khonghucu, maka
orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang
harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang
bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan
bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta
(Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang
Di".
Ajaran
falsafah ini diasaskan oleh Kong Hu Cu yang
dilahirkan pada tahun 551 SMChiang
Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak masih kecil dan
terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu
banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak
diikuti oleh penganut ajaran ini. Ia meninggal dunia pada tahun 479 SM.
Konfusianisme
mementingkan etika yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia
di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap
mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini
merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah
laku.
Konfusius
tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang
patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak
patut disembah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia
perlu berusaha memperbaiki moral.
Ajaran
ini dikembangkan oleh muridnya Mensius[1] ke
seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Antara
lain, Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan
falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar
biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan
diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.[2]
Para
nabi Ru Jiao di antaranya:
1. Nabi
Purba Fu Xi 2952 – 2836 SM
Fu
Xi beristrikan Nabi Nu Wa (Lie Kwa, Hokian) yang menciptakan Hukum Perkawinan
2. Nabi
Purba Shen Nong 2838 – 2698 SM
3. Nabi
Purba Huang Di 2698 – 2596 SM
Istrinya,
Nabi Lei Zu adalah penemu sutra yang ditenunnya dari kepompong ulat sutra dan
bersama Huang Di menciptakan alat tenun, pakaian Hian Ik (pakaian harian) dan
Hong Siang (pakaian upacara).
4. Nabi
Purba Yao 2357 – 2255 SM
5. Nabi
Purba Shun 2255 – 2205 SM
6. Nabi
Purba Da Yu 2205 – 2197 SM
7. Nabi
Purba Shang Tang 1766 – 1122 SM
8. Nabi
Wen, Wu Zhou-gong 1122 – 255 SM
9. Nabi
Besar Kong Zi 551 – 479 SM
10. Nabi
Ferdi Zhi 480-499 SM
Intisari
ajaran Khong Hu Cu
Delapan
Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
Sepenuh
Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
Sepenuh
Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
Sepenuh
Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
Sepenuh
Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
Sepenuh
Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
Sepenuh
Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
Sepenuh
Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
Sepenuh
Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
B. Etika
Dalam Konghucu
Dengan
dasar keimanan Agama Khonghucu, diturunkanlah ajaran moral dan etika yang
langsung menyangkut prilaku di dalam penghidupan yang bersifat praktis. Dalam
hal ini wajib dicamkan bahwa betapapun indah, praktis dan bermanfaatnya ajaran
itu, tanpa dasar keimanan yang mantap maka akan menjadi dangkal dan gersang.
Sayangnya, banyak orang mempelajari dan melihat Agama Khonghucu hanya dari segi
moral dan etika yang bersifat praktis saja tanpa mau tahu dasar keimanannya.
Jelas cara yang demikian itu tidak tepat dan hasilnya akan jauh dari kebenaran.
Sesungguhnya
ajaran moral etika itu adalah sekedar penjabaran daripada keimanan Konfusiani.
Karena itu, bila di bawah ini dipetikkan beberapa ajaran moral dan etika
Konfusiani, perlu disadari bahwa semuanya itu tidak dapat dilepaskan, bahkan
berpadu erat dengan dasar-dasar keimanan Agama Khonghucu. Dengan demikian
sajalah dapat dihindari kesalahan yang sesungguhnya tidak perlu.
Ajaran Iman Agama Khonghucu membimbingkan umat mengimani bahwa hidup manusia adalah oleh firman TIAN dan firman itu menjadi Watak Sejatinya yang merupakan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan, maka hidup manusia wajib berupaya mampu satya menegakkan firman dengan menggemilangkan kebajikan yang dikaruniakan itu.
Ajaran Iman Agama Khonghucu membimbingkan umat mengimani bahwa hidup manusia adalah oleh firman TIAN dan firman itu menjadi Watak Sejatinya yang merupakan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan, maka hidup manusia wajib berupaya mampu satya menegakkan firman dengan menggemilangkan kebajikan yang dikaruniakan itu.
Menggemilangkan
kebajikan tidak berarti hanya membangun kesucian dan kecerahan bagi diri
sendiri tetapi wajib mengamalkan di dalam kehidupan ini. Itulah yang wajib
terus menerus diupayakan agar mampu mencapai puncak baik. Hal ini menyangkut
bagaimana wajib menjalin hubungan yang indah dan baik kepada TIAN Tuhan Khaliq
Semesta Alam, Di atau bumi yang menjadi pendukung kehidupannya maupun kepada
sesama manusia dan sesama makhluk, sehingga terjalin hubungan yang harmonis di
dalam San Cai: Tian Di Ren atau Tuhan Yang Maha Esa, Semesta Alam dan manusia
serta segenap makhluk.
Berikut
adalah beberapa point penting yang menyangkut moral dan etika Khonghucu /
Konfuciani :[3]
1.
Satya Dan Tepasarira / Zhong Shu
2.
Tripusaka : Bijaksana, Cinta Kasih, Berani / Zhi, Ren, Yong,
3. Bakti
Dan Rendah Hati / Xiao Ti
4. Satya
Dan Dapat Dipercaya / Zhong Xin
5. Kesusilaan
Dan Kebenaran / Li Yi
6.
Suci Hati Dan Tahu Malu / Lian Chi
7.
Hormat Dan Sungguh-Sungguh / Gong Jing
8.
Sederhana Dan Suka Mengalah / Qian Rang
9.
Tengah Tepat Dan Lurus / Zhong Zheng
10.
Memperbaiki Kesalahan / Gai Guo
11.
Menegakkan Jasa / Li Gong
12.
Akrablah Kepada Para Bijaksana / Qin Xian
13.
Membenci Kepalsuan / E Wei
14.
Mengerti Orang Lain / Zhi Ren
15.
Menuntut Diri Sendiri / Qiu Ji
16.
Melindungi Diri / Bao Shen
17.
Bahagia Di Dalam Jalan Suci / Le Dao
18.
Melaksanakan Ajaran Agama Dengan Sungguh / Gong Xing
19.
Yang Berpribadi Susilawan / Junzi
20.
Cinta Belajar / Hao Xue
21.
Hati-Hati / Cermat Berfikir / Shen Si
22.
Satu Prinsip Yang Menembus Semuanya / Yi Guan Zhi Dao
23.
Menuntut Kenyataan / Qiu Shi
24.
Menjaga Kewajaran / Shou Chang
25.
Miliki Keuletan Semangat / You Heng
26.
Meluruskan Diri / Zheng Ji
27.
Mengatur Pekerjaan / Qiu Zhi
Cara
yang terbaik untuk mengetahui seperti apa ajaran-ajaran etika yang diajarkan
oleh Khonghucu (551-479 SM) kepada para pengikurtnya tidak ada jalan lain
kecuali harus mempelajari kitab-kitab yang memuat ajaran Khonghucu. Kitab-kitab
yang memuat ajaran Khonghucu tersebut juga diyakini oleh umat Khonghucu sebagai
kitab suci. Kitab-kitab suci yang memuat ajaran etika Khonghucu itu adalah:
Kitab Su Si (Kitab yang empat) dan Kitab Haw King (Kitab bakti).
Ajaran-ajaran
Khonghucu yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya terutama Su Si dan Haw King,
tampaknya Khonghucu sangat menekankan pentingnya nilai-nilai etika, baik itu
dalam kehidupan rumah tangga, di masyarakat, dan di pemerintahan. Menurut
Khonghucu etika itu penting untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Untuk
mencapai tujuan yang lebih besar itu, Khonghucu menganjurkan agar dimulai dari
yang lebih kecil. Dengan kata lain, apabila kita hendak mewujudkan perdamaian
dunia, hendaklah dimualai dari kehidupan rumah tangga. Hal ini dapat dilihat
dari perkataan Khonghucu dalam kitab Thai Hak 1: 4-5, sebagai berikut:
“Maka
orang zaman dahulu yang hendak menggemilangkan kebijakannya yang bercahaya pada
tiap umat di dunia, ia terlenih dahulu berusaha mengatur negerinya, ia terlebih
dahulu berusaha membereskan rumah tangganya; untuk membereskan rumah tangganya,
ia lebih dahuu membina dirinya; untuk membina dirinya, terlebih dahulu
meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya, ia lebih terlebih dahulu
mengimankan tekadnya; untuk mengimankan tekadnya, ia terlebih dahulu
mencukupkan pengetahuannya;dan untuk mencukupkan pemgetahuannya, ia meneliti
hakikat tiap perkara” (ayat 4) “Dengan meneliti hakikat setiap perkara, dapat
cukuplah pengetahuannya; dengan cukup pengetahuannya, akan dapatlah mengimankan
tekadnya; dengan tekadnya yang beriman, akan dapatlah meluruskan hatinya;
dengan hati yang lurus, akan dapatlah membina dirinya; dengan diri yang
terbina, akan dapatlah membereskan rumah tangganya; dengan rumah tangga yang
beres, akan dapatlah mengatur negerinya; dan dengan negerinya yang teratur,
akan dapat dicapai damai di dunia.” (ayat 5).[4]
C. Pandangan
Bangsa Tiongkok Kuna Tentang Harmonisasi
Seorang
sarjana Tiongkok, Dr. Lin Yu Tang, menyatakan bahwa “Budi” itu adalah kekuatan
yang mencari keselarasan dengan dunia sekitarnya yaitu suatu sikap kejiwaan
yang terpuji dalam keseluruhan bentuk hidup yang luas sesuai dengan hukum dunia
yang paling tinggi yakni hukum Tao. Lidah manusia tidak mampu merumuskan dengan
kata-kata apapun juga tentang Tao itu. Sikap kejiwaan yang demikian itu dapat
membuka diri pribadi mereka. Tiongkok mempunyai tiga macam agama, ketiganya
merupakan satu agama. Ketiga agama tersebut adalah Konfusianisme, Taoisme dan
Buddhisme.[5]
Mengingat
kuatnya tradisi, pandangan hidup rohaniah yang berlatar belakang pada
kepercayaan terhadap hal-hal gaib, dapat dikatakan hidup keberagamaan bangsa
Tiongkok adalah animisme yang dipadu dengan theisme.
Selain
itu bangsa Tiongkok kuna selalu mengadakan upacara dengan tujuan untuk
menghirmati dewa-dewa. Upacara selalu ditetapkan pada saat yang khusus dalam
kehidupan manusia. Sikap pemujaan ini menimbulkan hal-hal yang tabu dan
sakraldalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, kehidupan masyarakat
Tiongkok kuna baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata selalu diikat dengan
peraturan yang bertujuan mempertahankan adanya harmonisasi antara satu dengan
yang lain, antara manusia dengan makhluk lainnya, antara bawahan dengan atasan,
antara manusia dengan makhluk lainnya, antara susunan dunia dengan susunan yang
ada di langit, dan antara manusia dengan alam sekitarnya.[6]
C.J.
Bleeker mengatakan bahwa bentuk awal dari konsep kebragamaan orang
Cina itu terdiri dari: pemujaan alam, pemujaan atau penghormatan pada leluhur,
dan pemujaan terhadap langit.
1. San
Kang (Tiga Hubungan)
Pengertian
dari San Kang atau tiga hubungn dari tata krama ini adalah sebagai berikut:[7]
a. Hubungan
seorang raja dengan menterinya atau hubungan atasan dengan bawahannya.
Untuk
melihat bagaimana pandangan konghucu tetang hubungan atasan dengan bawahan ini,
dapat dilihat ungkapan konghucu berikut ini:
“seorang
raja memperlakukan mentrinya dengan Li (kesopanan atau penuh dengan
budi pekerti yang baik). Seorang Mentri mengabdi kepada Raja dengan
kesetiaannya.” (Lun Gi III : 19).
Pengertiannya
seorang pemimpin yang bijak akan senantiasa melihat kesejahteraan bawahannya
dengan penuh tanggung jawab. Demikian juga sebaliknya seorang bawahan yang
baik akan selalu senantiasa melaksanakan kewajibann tugasnya dengan taat.
b. Hubungan Orang
Tua dengan Anak.
Selain
membicarakan hubungan Raja dengan Menteri dan sebaliknya Menteri dengan Raja,
konghucu juga bicara tentang hubungan Bapak dengan anaknya, dan juga sebaliknya
hubungan Anak dengan Orang Tuanya. Hubungan ayah dengan anak ini dapat dilihat
dalam perkataan konghucu sebagai berikut: “Raja berfungsi sebagai Raja, Mentri
berfungsi sebagai Menteri, Ayah berfungsi sebagai Ayah dan Anak berfungsi
sebagai Anak.” (Lun Gi XII : 11) jika kesemuanya ini dapat berfungsi sesuai
dengan norma yang berlaku, akan terwujudlah keharmonisan dalam keluarga dan
masyarakat.
c. Hubungan
suami dengan istri.
Bagi
Konghucu hubungan suami dengan istri haruslah juga didasarkan pada sifat-sifat
yang baik dan terpuji. Seorang suami harus dapat menghormati istrinya dan
begitu juga sebaliknya, seorang istri harus dapat menghormati suaminya. Hal ini
dapat dilihat dari kata-kata Mencius di bawah ini :
“menurut
(mengikuti) sifat-sifat yang benar itulah jalan suci bagi seorang wanita.
“(Mencius III, 2:2) istri yang baik itu adalah istri yang tunduk dan patuh
terhadap perintah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri yang selalu
melanggar perintah suaminya. Perintah suami yang semestinya diikuti oleh istri
adalah perintah yang tidak bernuansa keburukan. Jika perintah suami itu tidak
baik, tidak seharusnya perintah yang tidak diikuti oleh sang istri. Perkataan
Mencius (murid konghucu) ini juga menyiratkan pengertian bahwa sifat-sifat yang
benar itu adalah petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Jika seorang istri menjalani
sifat-sifat yang benar tersebut berarti ia telah mengikuti petunjuk Thian.
2. Ngo
Lun (Lima Norma Kesopana dalam Masyarakat)
Ngo
Lun itu disebut sebagai Wu Luen, yang artinya juga “Lima norma kesopanan dalam
masyarakat”. Baik Ngo Lun maupun Wu Luen, mempunyai arti yang sama.
Konsep
tentang lima hubungan yang merupakan unsur penting dari kehidupan sosial, dalam
pandangan Konfusius adalah hubungan antara ayah dan anak, kakak dan adik, suami
dan istri, sahabat muda dan sahabat tua, dan penguasa dengan
rakyatnya. Oleh karena itu demi kebaikan masyarakat hubungan-hubungan ini perlu
sekali ditata secara tepat. Tidak satupun dari hubungan ini yang sifatnya
sementara. Dalam setiap hal, tanggapan yang berbeda diperlukan bagi kedua belah
pihak. Seorang ayah harus bersifat kasih dan seorang anak harus bersikap patuh.
Seorang kakak lembut, dan adik hormat. Seorang suami baik dan seorang istri
“mendengarkan”. Seorang sahabat tua penuh dengan pertimbangan, seorang sahabat
muda hormat. Seorang penguasa murah hati dan rakyatnya setia.[8]
Dalam
bidang sosial, Konfusius menekankan perasaan berkawan atau timbal balik,
penanaman rasa simpati dan kerja sama, yang harus dimulai dari lingkungan
keluarga dan selanjutnya meluas setingkat demi setingkat masuk kedalam bidang
persekutuan yang lebih luas. Ia menekankan lima macam hubungan manusia yang
pokok yang sudah menjadi teradisi dalam kehidupan orang-orang Cina, yaitu : (1)
hubungan antara pengausa dan warganegara; (2) hubungan ayah dan lelaki; (3)
hubungan kakak laki-laki dan adik laki-laki; (4) hubungan suami dan istri; (5)
hubungan teman dengan teman. [9]
Sebelumnya
sudah dibicarakan pengertian San Kang (tiga hubungan), namun dalam pembicaraan
mengenai Ngo Lun tersebut sama seperti San Kang, akan tetapi ditambah dua
pengertian lagi. Penambahan kedua hubungan tersebut adalah sebagai berikut:[10]
a. Hubungan
saudara dengan saudara.
Proses
hubungan saudara dengan saudara ini dapat dilihat dalam perkataan-perkataan
Konghucu berikut ini :
“seorang
muda, di rumah hendaklah berlaku bakti, di luar (rumah) hendaklah bersikap
rendah hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada
masyarakat, dan berhubungan erat dengan orang yang berperi cinta kasih” (Lun
Gi, I : 6)
b. Hubungan
teman dengan teman
Konghucu
tidak hanya menekankan pentingnya hubungan antara raja dengan menteri, orang
tua dengan anak, yang tua dengan muda, namun ia juga menekankan pentingnya
hubungan antara teman dengan teman. Sehubungan dengan itu, Konghucu mengatakan
:
“ada
tiga macam sahabat yang membawa manfaat dan ada tiga macam sahabat yang membawa
celaka. Seorang sahabat yang lurus, yang jujur, dan yang berpengetahuan luas,
akan membawa manfaat. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal yang
baik, dan hanya pandai memutar lidah akan membawa celaka. “ (Lun Gi, XIV : 4)
3. Sifat-sifat
Mulia dalam Ajaran Khonghucu
1. Wu
Chang (lima sifat yang mulia)[11]
Lima
sifat yang mulia (Wu Chang) terdiri dari:
a. Ren/Jin:
cinta kasih, rasa kebenaran, kebajikan, tahu diri, halus budi pekerti (sopan
santun) serta dapat menyelami perasaan orang lain.
b. I/Gi,
yaitu: rasa solidaritas, senasib sepenanggungan dan rasa mrmbela kebenaran.
c. Li
atau Lee, yaitu: sopan santun, tata krama, dan budi pekerti.
d. Ce
atau Ti, yaitu: bijaksana atau kebijaksanaan (wisdom), pengertian dan kearifan.
e. Sin,
kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya oleh orang lain serta dapat memegang
janji dan menepati janji.
Ø Lima
Sifat Kekekalan (Wu Chang):
a. Ren
– Cintakasih
Dalam
Kitab Suci Agama Khonghucu (SI SHU), pembahasan tentang Cinta Kasih terdapat
pada Kitab Ajaran Besar sebanyak 1 Pasal 2 ayat, Kitab Tengah Sempurna 1 pasal
2 ayat, Kitab Sabda Suci 12 pasal 34 ayat dan Kitab Meng Zi 8 pasal 19 ayat.
Pada Kitab Sabda Suci XII : 1 menyatakan Cinta Kasih itu adalah mengendalikan
diri pulang kepada kesusilaan dan sangat tergantung kepada usaha diri sendiri,
maka Nabi Bersabda, "Yang tidak susila jangan dilihat, Yang tidak susila
jangan di dengar, Yang tidak susila jangan dibicarakan, dan Yang tidak susila
jangan dilakukan". Pada ayat lain, Sabda Nabi menyatakan bahwa "apa
yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang
lain".Disamping beberapa ayat tersebut di atas telah menjadi pegangan
hidup bagi umat Khonghucu, ada 2 ayat lagi yang tidak asing ditelinga yaitu :
"Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar
orang lain pun tegak ; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun
maju". (Sabda Suci VI : 30 : 3)."Seorang yang berperi Cinta
Kasih rela menderita lebih dahulu dan membelakangkan keuntungan. Demikianlah
orang yang berperi Cinta Kasih.
b. Yi -
Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
Pembahasan
tentang kebenaran/ keadilan terdapat pada Kitab Ajaran Besar sebanyak 2 pasal 2
ayat. Tengah Sempurna 3 pasal 6 ayat, Sabda Suci 4 pasal 5 ayat dan Meng Zi 6
pasal 8 ayat. Kebenaran itu adalah kewajiban hidup dan jalan lurus, seringkali
disebut bahwa kebenaran adalah Jalan sedangkan kesusilaan adalah pintu. Maka
dikatakan apabila hendak menemui seorang bijaksana dengan tidak memakai cara
yang berlandas Jalan Suci, laksana menyuruh orang masuk rumah tetapi menutup
pintu". (Meng Zi VB: 7:8).Dalam Kitab Meng Zi IIIB: 9:9, menyatakan bahwa
Ajaran Yang Cu hanya mengutamakan diri sendiri. Tidak mau mengakui adanya
pemimpin. Bik Cu mengajarkan Cinta yang menyeluruh sama ; tidak mengakui adanya
orang tua sendiri ! yang tidak mengakui adanya orang tua sendiri dan adanya
pemimpin sesungguhnya hanya burung atau hewan saja. Kalau ajaran Yang Cu dan
Bik Cu tidak dipadamkan, jalan Suci Kong Zi tidak akan dapat bersemi ;
kata-kata jahat itu akan membodohkan rakyat, menimbuni Cinta Kasih dan
kebenaran. Bila Cinta Kasih dan Kebenaran tertimbun, ini seperti menuntun
binatang memakan manusia, bahkan mungkin manusia makan manusia.Oleh karena itu
bahwa ajaran yang tidak mengakui adanya orang tua sendiri dan adanya pemimpin
sangat bertentangan dengan kebenaran/ keadilan. Sedangkan ajaran Nabi Agung
Kong Zi memposisikan Laku Bakti kepada orang tua di atas segala-galanya setelah
Tuhan dan Nabi.
c. Li
- Kesusilaan, Kepantasan
Pembahasan
tentang Kesusilaan terdapat pada Kitab Tengah Sempurna sebanyak 4 pasal 6 ayat,
Sabda Suci 16 pasal 40 ayat dan Meng Zi 8 pasal 16 ayat. Dalam kamus Bahasa
Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta arti kata dari kesusilaan adalah
kesopanan ; sopan santun, keadaban. Pada jaman sekarang, kesopanan atau
kesusilaan sudah merupakan barang mahal. Maksudnya adalah semakin langka orang
berlaku sopan terhadap orang tuanya, saudara-audara tuanya, orang-orang lain
yang lebih tua. Perkembangan ini menunjukkan suatu kemerosotan moral dan cukup
memprihatinkan. Dalam banyak hal yang akan kita lakukan, Nabi Agung Kong Zi
memberikan Sabda, "Melakukan hormat tanpa tertib kesusilaan, akan
menjadikan orang repot. Berhati-hati tanpa tertib kesusilaan, akan menjadikan
orang serba takut. Berani tanpa tertib kesusilaan, akan menjadikan orang suka
mengacau. Dan jujur tanpa tertib kesusilaan, akan menjadikan orang berlaku
kasar". (Sabda Suci VIII : 2). Jadi setiap perbuatan, menurut kita sudah
baik dan benar masih perlu diukur dengan parameter kesusilaan. Agar apa yang
telah dihasilkan (Out-putnya) masih dalam kerangka harmonis, seimbang dan
selaras.Disamping itu, dalam Sabda Suci XX : 3 : 2 menyatakan bahwa, "Yang
tidak mengenal Kesusilaan, ia tidak dapat teguh pendirian". Dengan
demikian setiap Insan dituntut untuk mengenal Kesusilaan. Agar hubungan sesama
manusia di dalam keluarga, masyarakat dan negara adanya keharmonisan. Dan pada
ayat lain ditegaskan oleh Nabi, "Tegakkan Pribadimu dengan
kesusilaan". Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu harus dimulai dari
diri sendiri terlebih dahulu.
d. Zhi
– Bijaksana
Pembahasan
tentang kebijaksanaan terdapat pada Kitab Ajaran Besar sebanyak 4 pasal 10
ayat, Tengah Sempurna 5 pasal 5 ayat, Sabda Suci 14 pasal 42 ayat dan Meng Zi 9
pasal 23 ayat. Kebijaksanaan asal kata dari bijak artinya pandai, mahir, selalu
menggunakan akal budinya (W.J.S. Poerwadarminta). Nabi bersabda, "Orang
yang memahami ajaran lama lalu dapat menerapkan pada yang baru, dia boleh
dijadikan guru". (Tengah Sempurna XXVI : 6). Kata-kata atau ungkapan yang
bijak selalu berlaku sepanjang masa, maka Nabi Agung Kong Zi dijuliki Nabi
Sepanjang Masa.Dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana cara agar kita dapat
bertindak bijak ? Dalam Kitab Sabda Suci III:21:2, menyatakan, "Hal yang
sudah terjadi tidak perlu dipercakapkan, hal yang sudah terlanjur tidak perlu
dicegah, dan hal yang sudah lampau tidak perlu disalah-salahkan".
Dalam
hal ini di anjurkan bahwa Orientasi kita adalah kedepan, sedangkan
kejadian-kejadian terdahulu merupakan guru atau pengalaman hidup untuk
melangkah kedepan, dan selalu memperbaiki serta memperbaharui diri setiap
hari.Berhubungan dengan keadaan tersebut di atas, ayat lain menganjurkan,
"Balaslah kejahatan dengan kelurusan dan balaslah kebajikan dengan
kebajikan". Artinya apabila ada orang berbuat jahat atau jahil kepada kita,
maka sadarkanlah orang tersebut dengan perbuatan kita dan apabila orang berbuat
baik kepada kita, maka kita juga wajib berlaku baik kepada orang yang
bersangkutan.
Menurut
Huston smith Li mempunyai dua arti. Arti pertama adalah kesopanan, yaitu cara
bagaimana seharusnya segala sesuatu harus dilakukan. Konfusius berpendapat
bahwa jika individu-individu harus memulai segala sesuatu dari awal, maka tidak
banyak yang akan dicapainya dalam mencari keindahan dan kebaikan. Mereka
memerlukan contoh. Konfusius ingin menampilkan contoh-contoh terbaik dari
kehidupan sosial yang telah ditemukan agar di perhatikan seluruh masyarakat,
sehingga setiap orang dapat memandang, mengingat, da mencontohnya.[12]
e. Xin -
Dapat dipercaya
Pembahasan
tentang dapat dipercaya terdapat pada Kibab Ajaran Besar sebanyak 1 pasal
1ayat, Tengah Sempurna 1 pasal 1 ayat, Sabda Suci 6 pasal 7 ayat dan Meng Zi 1
pasal 1 ayat. "Kalau memegang sikap dapat dipercaya itu dilandasi
kebenaran, maka kata-katanya akan dapat ditepati. Kalau sikap hormat itu
dilandasi tata susila, niscaya menjauhkan malu dan hina. Kalau dapat dekat
kepada orang yang patut (Karena jiwanya yang luhur), ia akan mendapatkan
pembimbing yang boleh dijunjung". (Sabda Suci I:13). Sikap dapat dipercaya
ini memungkinkan manusia mencapai cita-citanya, sedangkan kesombongan dan
keangkuhan akan mengakibatkan hilangnya harapan.Dalam kehidupan kita ini setiap
manusia menghendaki orang lain bertindak jujur dan dapat dipercaya. Padahal
belum tentu dirinya dapat bertindak demikian. Jadi Insan yang mana pun bila
berlaku dapat dipercaya akan diterima di mana pun ia berada.
2. Pa
Te (delapan sifat mulia)
a. Siau/Hau
dapat diartikan rasa bakti yang tulus terhadap orangtua, guru, dan leluhur.
b. Thi/
Tee dapat diartikan sebagai rasa hormat terhadap yang lebih tua di antara
saudara.
c. Cung/Tiong
dapat diartikan sebagai setia terhadap atasan, setia terhadap teman dan
kerabat.
d. Sin
dapat diartikan kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya atau dapat menepati
janji.
e. Lee
/ Li dapat diartikan sebagai sopan santun, tata krama, dan budi pekerti.
f. I
/ Gi dapat diartikan sebagai rasa solidaritas, rasa senasib dan sepenaggungan,
dan mau membela kebenaran serta menolak hal-hal yang dirasakan tidak baik dalam
hidup ini.
g. Lien
/ Liam dapat diartikan mempraktekkan cara hidup yang sederhana dan tidak
melakukan penyelewengan.
h. Che
/ Thi diartikan dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang amoral
atau hal-hal yang dapat merusak moral.
SUB BAB III : TENTANG KASIH
SAYANG , KEMESRAAN , PEMUJAAN DAN BELAS KASIHAN
KASIH
SAYANG
Erich
Fromm (1983:54) dalam bukunya Semi Mencintai mengemukakan tentang
adanya macam macam cinta, yaitu:
Cinta
Persaudaraan, diwujudkan manusia dalam tingkah atau perbuatannya. Cinta
persaudraan tidak mengenal adanya batas – batas manusia berdasarkan SARA.
Cinta
Keibuan, kasih sayang yang bersumber pada cinta seorang ibu terhadap
anaknya.
Cinta
Erotis, kasih sayang yang bersumber dai cinta erotis (birahi) merupakan
sesuatu yang sifatnya khusus sehingga memperdayakan cinta yang sesunguhnya.
Namun, bila orang yang melakukan hubungan erotis tanpa disadari rasa cinta, di
dalamnya sama sekali tidak mungkin timbul rasa kasih sayang.
Cinta
Diri Sendiri, yaitu bersumber dai diri sendiri. CInta diri sendiri bernilai
positif jika mengandung makna bahwa seseorang dapat mengurus dirinya dalam
kebutuhan jasmani dan rohani.
Cinta
Terhadap Allah
KEMESRAAN
Kemesraan
berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti
hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber
dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama
dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Tingkatan
kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
Kemesraan
dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu
dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan
seksualitasnya kuat.
Kemesraan
dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan.
Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun
bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
Kemesraan
Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya.
Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.
PEMUJAAN
Pemujaan
berasal dari kata puja yang berarti penghormatan atau tempat memuja kepada dewa
– dewa atau berhala. Dalam perkembangannya kemudian pujaan ditujukan kepada
orang yang dicintai, pahlawan dan Tuhan YME. Pemujaan kepada Tuhan adalah perwujudan
cinta manusia kepada Tuhan, karena merupakan inti , nilai dan makna dari
kehidupan yang sebenarnya.
Cara
Pemujaan dalam kehidupan manusia terdapat berbagai perbedaan sesuai dengan
ajaran agama, kepercayaan, kondisi dan situasi. Tempat pemujaan merupakan
tempat komunikasi manusia dengan Tuhan. Berbagai seni sebagai manifestasi
pemujaan merupakan suatu tambahan tersendiri dalam terciptanya kehidupan yang
lebih indah.
BELAS
KASIHAN
Belas
kasih adalah kebajikan di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan
orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan
keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi
prinsi-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian .
Dalam surat Al
–Qolam ayat 4,” maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena
belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi
sangat dipujikan oleh Allah SWT.”
Perbuatan
atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai
potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia mengggugah potensi
belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang
berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
http://www.mediahindu.net/berita-dan-artikel/artikel-umum/81-cinta-kasih-dalam-perspektif-hindu.html